Mengapa Kebakaran Lahan Gambut Sulit Dipadamkan? Ini Alasannya

Author Image

netralid

30 Agustus 2026, 14:40 WIB

Mengapa Kebakaran Lahan Gambut Sulit Dipadamkan? Ini Alasannya

dan lahan () di Indonesia sering kali menjadi tantangan besar, terutama ketika melanda kawasan gambut. Pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menjelaskan bahwa memadamkan api di ekosistem unik ini memiliki tingkat kesulitan yang jauh berbeda dibandingkan dengan kebakaran di lahan mineral biasa.

Karakteristik fisik dan kandungan bahan organik yang tinggi pada gambut menjadi faktor utama mengapa penanganan di area ini memerlukan strategi khusus. Ketika kubah gambut mengering, wilayah tersebut berubah menjadi area yang sangat rentan terhadap penyebaran api.

Karakteristik Unik Lahan Gambut saat Terbakar

Menurut penjelasan ilmiah, tanah gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang tidak membusuk secara sempurna karena kondisi lingkungan yang jenuh air. Komposisi organik yang sangat tebal ini membuat berfungsi layaknya bahan bakar raksasa yang siap menyala kapan saja ketika kehilangan kelembapannya.

Perbedaan mendasar antara kebakaran di lahan biasa dan terletak pada lokasi penjalaran api. Pada lahan mineral, kebakaran umumnya hanya terjadi di permukaan (surface fire) sehingga lebih mudah dideteksi dan dipadamkan langsung. Sebaliknya, kebakaran di lahan gambut dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah (ground fire).

Tantangan Pemadaman Bawah Permukaan

Api yang menjalar di bawah permukaan tanah gambut sering kali tidak terlihat secara kasatmata. Bara api dapat terus menyala secara perlahan (smoldering) di kedalaman beberapa meter meskipun bagian permukaannya tampak sudah padam. Kondisi inilah yang sering kali mengecoh pemadam di lapangan.

Untuk memadamkan kebakaran bawah permukaan ini secara tuntas, petugas harus melakukan pembasahan total (rewetting) hingga ke lapisan dalam gambut. Proses ini membutuhkan volume air yang sangat besar dan waktu penanganan yang jauh lebih lama dibandingkan pemadaman biasa. Jika pembasahan tidak dilakukan hingga ke bagian terdalam, embusan angin dan cuaca panas ekstrem dapat dengan mudah memicu api kembali berkobar ke permukaan.

Related Post