Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengoptimalkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui jalur udara. Dalam misi terbaru, sebanyak tiga unit helikopter water bombing dikerahkan dan telah menjatuhkan total 1,5 juta liter air secara presisi di area yang terbakar.
Metode pemadaman dari udara ini menjadi pilar krusial, terutama untuk menjangkau titik api (hotspot) di medan sulit yang tidak bisa diakses oleh tim darat. Namun, menjatuhkan ribuan liter air tepat pada sasaran di tengah kepulan asap tebal bukanlah perkara mudah dan membutuhkan teknik serta perhitungan yang matang.
Mekanisme Operasional Water Bombing di Udara
Cara kerja water bombing dimulai dengan pengambilan air menggunakan kantong raksasa yang dikenal sebagai bambi bucket. Kantong yang digantungkan di bawah helikopter ini diisi dengan cara mencelupkannya langsung ke sumber air terdekat, seperti danau, sungai, atau embung penampungan.
Baca Juga
Setelah kantong terisi penuh, pilot helikopter akan terbang menuju koordinat kebakaran yang telah dipetakan. Proses pelepasan air dilakukan dengan membuka katup di bagian bawah kantong secara elektronik dari ruang kokpit saat helikopter berada di posisi optimal di atas titik api.
Tantangan dan Cara Membidik Titik Api Secara Presisi
Keberhasilan pemadaman udara sangat bergantung pada akurasi jatuhnya air. Untuk membidik titik api secara tepat, pilot helikopter harus memperhitungkan berbagai faktor alam yang dinamis di lapangan.
Beberapa aspek teknis yang harus diperhatikan oleh kru helikopter meliputi:
- Arah dan Kecepatan Angin: Angin kencang dapat menggeser arah jatuhnya air dari target aslinya, sehingga pilot harus melakukan koreksi posisi terbang sebelum menjatuhkan air.
- Ketinggian Terbang (Altitude): Helikopter harus terbang cukup rendah agar air tidak menguap atau pecah menjadi kabut sebelum menyentuh tanah, namun tetap berada di batas aman dari jangkauan api dan asap ekstrem.
- Densitas Asap dan Jarak Pandang: Kabut asap pekat sering kali menghalangi pandangan visual langsung ke pusat api, sehingga membutuhkan koordinasi ketat dan penggunaan sensor pemantau.
Koordinasi dengan Tim Darat
Keberhasilan pelepasan 1,5 juta liter air oleh tiga helikopter BNPB ini tidak lepas dari sinergi dengan personel di darat. Petugas darat memberikan informasi secara real-time mengenai arah perambatan api dan tingkat efektivitas siraman air yang baru saja dilakukan.
Melalui kombinasi teknologi penerbangan, keahlian pilot, dan dukungan data taktis di lapangan, operasi water bombing ini diharapkan dapat menekan penyebaran karhutla secara signifikan demi melindungi ekosistem dan kesehatan masyarakat.




