Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali menyimpan bahaya tersembunyi yang tidak terlihat oleh mata telanjang, terutama ketika melanda kawasan lahan gambut. Meski kobaran api di permukaan tampak sudah padam sepenuhnya, hal tersebut belum menjamin bahwa bencana kebakaran telah benar-benar berakhir.
Karakteristik unik lahan gambut membuat bara api dapat bertahan dan terus menjalar di bawah permukaan tanah dalam waktu yang sangat lama. Fenomena api tak terlihat ini menjadi tantangan besar dalam upaya penanggulangan karhutla karena berpotensi memicu kebakaran baru sewaktu-waktu.
Mengenal Karakteristik Api di Bawah Permukaan Gambut
Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk dan memiliki kandungan bahan organik yang sangat tinggi. Ketika musim kemarau melanda, kandungan air di dalam gambut menyusut drastis, sehingga mengubah lahan basah ini menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.
Baca Juga
Api yang menyerang lahan gambut tidak hanya merambat di atas permukaan, melainkan meresap masuk ke dalam lapisan tanah yang dalam. Proses pembakaran di bawah permukaan ini berlangsung secara lambat tanpa menghasilkan nyala api yang besar, sehingga sering kali tidak terdeteksi dari atas permukaan tanah.
Mengapa Api Gambut Bisa Bertahan hingga Berbulan-bulan?
Kemampuan api untuk bertahan hingga berbulan-bulan di dalam tanah gambut dipicu oleh ketersediaan oksigen di dalam pori-pori gambut yang mengering. Struktur gambut yang berongga memungkinkan bara api tetap mendapat suplai udara secara perlahan, sekaligus melindunginya dari siraman air hujan ringan di permukaan.
Kondisi ini membuat bara api terus membara secara perlahan atau dikenal dengan istilah pembakaran tanpa nyala (smoldering). Karena posisinya yang berada jauh di bawah permukaan, upaya pemadaman konvensional dengan menyemprotkan air dari atas sering kali tidak cukup kuat untuk menjangkau titik api terdalam.
Tantangan Pemadaman dan Pengawasan
Ketidakpastian mengenai kondisi api yang benar-benar padam menuntut kewaspadaan ekstra dari tim penanggulangan bencana. Selama bara api di bawah tanah belum sepenuhnya padam, risiko munculnya kembali kobaran api di permukaan tetap tinggi, terutama saat kondisi cuaca kembali kering dan berangin.
Oleh karena itu, penanganan karhutla di kawasan ini membutuhkan metode khusus seperti pembasahan kembali (rewetting) untuk memastikan air benar-benar meresap ke dalam lapisan terdalam gambut yang terbakar.




